MUI Jawa Timur: NII Sesat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyatakan gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang muncul saat ini merupakan aliran sesat karena menyimpang dari ajaran agama. Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buckhori lalu meminta pimpinan daerah Jawa Timur bertindak. “Muspida Jatim harus segera menyikapi gerakan NII seperti halnya Ahmadiyah,” katanya di acara seminar ‘Mewaspadai Gerakan NII di Lingkungan Kampus’ yang digelar di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu 4 Mei 2011. “Dan, kami sudah menyampaikan beberapa saran terkait penelitian MUI, bahwa NII itu sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Kami mengimbau pemerintah harus tegas menyikapi ini.” Selebihnya, Abdussomad menambahkan, MUI Jatim memiliki dasar hasil penelitian yang dilakukan ulama. Pada penelitian 5 Oktober 2002 itu, terdapat sejumlah bukti yang menyimpulkan NII terkait Pondok Pesantren Al Zaytun, yang membentuk ‘negara dalam negara’. Terkait itu, pihaknya sengaja tidak mengambil langkah apapun. Karena, MUI sebagai wadah ormas yang tidak mempunyai kepentingan politik. “Kita hanya wadah semua ormas yang hanya bisa memberikan masukan. Sementara, pemerintah dengan jumlah aparatnya yang sangat banyak dengan berbagai keahlian di bidang masing-masing yang harus menindak atau memberikan hukuman,” katanya. Sementara, masih dalam acara seminar, pengurus NII Crisis Center, Ken Setyawan, mengatakan kelompok radikal NII selalu mengumbar janji saat melakukan perekrutan anggota baru yakni, masuk surga. “Janji yang mereka katakan itu bohong dan dananya dikorupsi,” kata Ken. Ia memberi contoh, saat masih menjadi mahasiswa juga pernah mendapat ‘perintah’ seperti itu akan diberikan hadiah jika bisa menunjukkan prestasi. Namun, janji tersebut hanya bohong belaka, dan sejumlah dana yang berhasil dikumpulkan ternyata larinya ke atasan kelompok NII. “Itu kan, namanya dikorupsi?” Ken menegaskan, perekrutan yang dilakukan NII bisa merusak mental. Ia menambahkan, ada tiga langkah atau proses yang harus dilalui anggota baru untuk hijrah menjadi warga negara NII. Pertama, disebut Tilawah, yaitu menyampaikan pemahaman NII kepada orang di luar kelompoknya. Kedua, taktis atau semacam ujian yang diberikan untuk anggota baru. Ketiga, baru proses baiat, yakni berhijrah meninggalkan kewarganegaraan dan beralih menjadi warga negara NII. “Ini sangat berbahaya jika dibiarkan karena perekrutannya bisa berdampak ke perusakan mental,” kata Ken. Ditambahkan, anggota baru NII tidak bertugas untuk merekrut. Melainkan hanya diminta untuk mencari orang baru dan uang. Orang-orang berhasil didekati, atau sudah terpikat kemudian diserahkan kepada senior untuk diproses. Itu dilakukan bisa dari berbagai kalangan termasuk buruh dan mahasiswa. Menurut Ken, lingkungan kampus sebagai tempat paling mudah menjerat target. “Solidaritas diantara mereka (anggota NII), sangat tinggi. Bahkan, mereka siap mencarikan pekerjaan jika diperlukan. Dan, itu dilakukan tidak jauh-jauh, bisa bermula dari teman-temannya sendiri. Layaknya multilevel marketing,” katanya. (Laporan Tudji Martudji|Surabaya). • VIVAnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s