Tiga Prinsip Penting

Pertama; mulailah dari diri sendiri. Kita harus berusaha memperbaiki diri kita sendiri sebelum mengajak orang lain untuk menjadi baik. Kisah tentang Imam Hasan Al-Basri dengan utusan para budak sangat layak untuk kita jadikan contoh.

          Suatu ketika Imam Hasan Al-Basri didatangi oleh delegasi utusan para Budak. Delegasi budak mengeluhkan tentang perlakuan para majikan yang semena-mena dan kejam terhadap mereka. Delegasi itu juga berharap agar para majikan mau memerdekakan mereka. Mereka meminta kepada Imam Hasan Al-Basri agar berkenan menyampaikan dalam khutbah Jum’at tentang besarnya pahala dari Allah jika para majikan mau memerdekakan budaknya. Imam Hasan hanya terdiam mencermati permintaan para budak tersebut.

          Hari Jum’at adalah saat yang sangat ditunggu oleh para budak. Mereka ingin mendengarkan khutbah Jum’at sang Imam. Namun, mereka  kecewa karena sang Imam tidak ada membahas tentang budak dalam khutbahnya. Demikian berlalu sampai beberapa Jum’at, sampai suatu ketika Imam Hasan Al-Basri baru menyampaikan khutbah tentang perlunya bersikap kasih sayang terhadap budak serta besarnya pahala yang akan diterima dari Allah jika para majikan bersedia memerdekakan para budaknya. Berkat khutbah tersebut, maka banyaklah para majikan yang memerdekakan budaknya.

          Para budak banyak yang datang kepada sang Imam berselang beberapa saat setelah khutbah disampaikan, tapi bukan untuk menyampaikan terima kasih melainkan untuk mengajukan protes kenapa khutbah tentang budak baru sekarang disampaikan. Mendengarkan protes itu, maka Imam Hasan mengemukakan alasannya, “Aku menunda bicaraku tentang memerdekakan budak karena aku belum  mempunyai uang untuk membeli budak. Setelah Allah Ta’ala mengarunia aku uang untuk membeli budak, kemudian budak itu aku merdekakan sesuai dengan tema khutbah yang akan aku sampaikan dalam khutbah. Setelah aku melaksanakannya, barulah aku mengajak orang lain untuk melakukannya. Kaum Muslimin akan menyambut seruan Rabbul’alamin, jika mereka melihat ucapan dan perbuatanku sejalan.” Demikianlah Imam Hasan Al-Basri yang merupakan seorang ulama yang istiqomah dan memegang teguh ajaran Allah SWT.

          Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan sementara mereka tidak mengamalkannya sebagaimana firman-Nya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash – Shaff:3)

        Kedua; mulailah dari hal-hal yang kecil. Sangat sulit bagi seseorang untuk dapat menyelesaikan urusan yang besar secara baik apabila tidak  terlatih secara bertahap dengan mengerjakan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Akan sangat beresiko menyerahkan pekerjaan besar kepada pihak yang belum pernah menyelesaikan pekerjaan yang kecil secara baik. Sekecil apa pun pekerjaan baik yang kita lakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, insya Allah akan memberikan kontribusi yang berarti bagi kepentingan umat. Sekalipun manusia mungkin kurang menghargai usaha yang kita lakukan, yakinlah pasti Allah akan sangat menghargainya.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.” (Al-Zalzalah:7)

          Kita tidak harus menjadi pejabat baru bisa berbuat, tidak harus menjadi Pegawai Negeri baru bisa mengabdi, tidak harus menjadi anggota dewan baru bisa membantu perjuangan. Kita semua bisa memberikan sumbangsih dalam membangun umat dengan apa pun yang bisa kita lakukan. Jika tidak mampu membantu dengan harta, maka bisa dengan tenaga, pikiran, ucapan, atau sekurang-kurangnya tidak mengganggu orang lain yang sedang bekerja.

Berkaitan dengan ibadah ritual, misalnya tentang kesempurnaan ibadah sholat, maka kita tidak boleh mengabaikan  urusan di kamar kecil (WC). Urusan istinja’(bersuci setelah buang air) banyak dianggap sebagai urusan sepele. Tahukah anda, jika Nabi pernah menginformasikan bahwa siksa kubur banyak bersumber dari istinja’ yang tidak benar. Hal ini dapat dimaklumi dengan mengkaitkannya dengan aturan wudhu’. Wudhu’ seseorang tidak akan sempurna jika istinja’  tidak dilakukan sesuai aturan. Sedangkan sholat yang merupakan tiang agama menjadi tidak sempurna jika diawali dengan wudhu’-nya tidak sempurna.

      Ketiga; mulailah dari sekarang. Jangan menunda-nunda waktu dalam berbuat kebaikan. Apa yang bisa dikerjakan hari ini, maka jangan menundanya sampai hari esok karena tidak ada jaminan bahwa anda masih dapat mengerjakannya esok hari. Pemahaman seperti ini sangat penting terutama untuk kepentingan ibadah kita. Datangnya malaikat penjemput ruh tiada terduga. Selagi masih ada jatah hidup diberikan Allah, mari kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan masa depan yang cerah baik di dunia maupun di akhirat.

Tiga prinsip yang dikemukakan pada tulisan ini merupakan prinsip sederhana, akan tetapi untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata sangat diperlukan kesadaran dan semangat yang kuat. Prinsip-prinsip tersebut bukan saja untuk urusan akhirat, namun juga sangat penting diwujudkan dalam mencari kepentingan dunia. Allah SWT juga mengajarkan kepada kita:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash:77)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s