KEISTIQOMAHAN dalam DAKWAH

“MENGHIDUPKAN MEMORI DAKWAH”
Kekuatan sebuah memori tidak terletak pada visualisasi tentangnya, kapan peristiwanya, sedetail apa kejadiannya, siapa pelakunya, dimana lokasinya, dan sebagainya. Namun lebih kepada gelora hati saat mengenang memori tersebut.

Apabila memori itu baik, atau mengandung perbuatan kebaikan, maka dari gelora itu timbul kerinduan, kemudian mengejawantahkan dalam bentuk dorongan internal untuk melakukan suatu kebaikan serupa sebagaimana tergambar di pikiran.

Diantara semua memori yang pernah kita kenang, yang terbaik adalah manakala DAKWAH menjadi pelaku utamanya. Disana melebur jiwa muda dengan pikirannya yang segar, atau fisik yang prima dengan waktu luang yang melimpah, atau cita-cita meninggi dengan kebersamaan mencinta.

Hanya saja setiap kita perlu membuat semacam ‘alarm’ jiwa, ketika menempatkan DAKWAH dalam lintasan memori kita. Jangan-jangan ia justru HANYA berada di MASA LALU, di benak kita.

Padahal salah seorang Syaikh dakwah pernah mengatakan, “Dakwah adalah VISI, dakwah adalah MISI, dan dakwah adalah OBSESI”. Otomatis ia merupakan tujuan hidup, pekerjaan hidup, sekaligus penyemangat hidup.

DAKWAH bisa berada di MASA LALU sebagai SUMBER KEKUATAN dari memori. DAKWAH bisa berada di MASA KINI sebagai PROFESI hidup yang mulia. Dan, DAKWAH bisa berada di MASA DEPAN sebagai TUJUAN akhir yang mengabadi di sisi-Nya. SUdahkah kita meletakkan DAKWAH pada posisinya yang TEPAT?

Alangkah manisnya saat-saat Hudzaifah r.a menerima taujihat Rasulullah Saw tentang keistiqomahan, “Sesaat untuk urusan ini, dan sesaat untuk urusan itu.” Adanya prinsip TAWAZUN (keseimbangan) untuk menjaga agar ruh DAKWAH senantiasa berkobar dalam hati kita,. supaya ia tidak padam begitu saja.

KEISTIQOMAHAN dalam DAKWAH berkaitan erat dengan KESEIMBANGAN kita dalam mengelola segala bentuk KETERBATASAN.

Ingatkah kita, pada mereka yang memutuskan untuk berhenti lebih cepat dari DAKWAH ini, dikarenakan kesibukan-kesibukan mereka yang -katanya- tidak berujung? Lari dari satu pekerjaan menuju pekerjaan lain. Dari ruang kelas kuliah ke ruang kelas kuliah berikutnya. Dan dari tuntutan satu beralih ke tuntutan berikutnya. Mereka mengatakan, “Kami terlalu sibuk untuk mengurus dakwah ini, bukankah dakwah ini sudah diwariskan kepada generasi penerus kami?”

Kemanakah diri mereka saat ini, kawan? Mereka tidak menjadi SIAPA-SIAPA, tidak berada DIMANA-MANA, dan tidak mendapat APA-APA. Benarlah firman Allah, mereka menjadi generasi yang TERGANTIKAN.

Masih ada waktu dan kesempatan, agar kita tidak menjadi seperti mereka yang BERGUGURAN. Allah Swt tahu kita sibuk, dan kesibukan itu ujian dari-Nya agar kita terlatih mengelola waktu yang tersedia, agar KETERBATASAn itu bernilai BERKAH di jalan-Nya.

Mari belajar menaklukkan ujian TERSULIT dalam semua fase DAKWAH dan TARBIYAH kita : Kehilangan ruang untuk beramal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s