Ketika Jilbab Hanya Sebagai Asesoris

1. Fakta di Sekitar

  • Banyak perempuan-perempuan yang mengaku beragama Islam, mengenakan jilbab, tetapi masih mempertontonkan bentuk lekuk tubuhnya ( memakai celana jeans ketat atau legging). Salah bergerak sedikit, bagian tubuhnya bisa kelihatan. Mininya jilbab yang dikenakan seringkali malah membuat rambutnya yang panjang menjuntai keluar.
  • Para ibu yang menghadiri walimahan mengenakan jilbab, namun lengan kebayanya masih transparan. Usai walimahan, biasanya mereka menanggalkan jilbab seolah-olah jilbab hanyalah sebagai asesoris untuk walimahan saja.
  • Para siswi atau mahasiswi yang sekolah atau kuliah di sekolah atau universitas Islam yang mewajibkan untuk mengenakan jilbab, mau tidak mau mereka harus mengenakan jilbab ketika berada di lingkungan sekolah atau kampus. Di luar itu, mereka dengan mudahnya tanpa beban membiarkan rambutnya tidak tertutup oleh jilbab.
  • Ada juga sebagian mengenakan jilbab hanya karena merasa lebih cantik jika berjilbab. Rambutnya yang kurang bagus untuk diperlihatkan, terpaksa harus ditutupi. Jilbab modis yang dikenakan bisa mengalihkan penampilannya, hingga ia terlihat lebih mempesona dengan berjilbab.
  • Banyak wanita yang sudah mengenakan jilbab, namun akhlaqnya tak berbeda jauh dengan mereka yang belum mengenakan jilbab, bahkan lebih parah dari mereka. Berjilbab, tapi masih hobi pacaran, berdua-duaan dengan sang kekasih entah di tempat yang sepi atau ramai. Bahkan, sudah bukan hal yang tabu lagi jika mereka saling berciuman di tempat umum.

 

2. Kewajiban Berjilbab

  • QS.An Nuur : 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

  • QS. Al Ahzab 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

3. Batasan- Batasan dalam Berjilbab

  • Berjilbab tak hanya dilakukan ketika kita berada di luar rumah saja.
  • Jilbab yang dimaksud ialah yang sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala hingga dada dan menutupi semua bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
  • Yang merupakan mahrom ialah, sesuai dengan QS. An Nuur 31,

“…Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

4. Keuntungan Berjilbab

Sebagai Cermin Menjaga Hati  : Banyak yang mengatakan bahwa, jilbabin dulu hatinya baru jilbabin tubuhnya. Sebenarnya dengan kita memulai menjilbabi diri maka kita akan selalu menjaga jilbab kita agar tidak justru menimbulkan fitnah, karena kita merupakan muslimah yang taat kepada Allah. Sehingga, nantinya jilbab ini akan membawa kita pada perubahan sikap, tingkah laku serta perbuatan kita sehari-hari ke jalan yang diridloi-Nya.

TUBUHNYA DI-JILBAB-IN DAN HATINYA DI-BENER-IN

Advertisements

Hadits Arba’in Nisaaiyyah 40 Nasihat Rosul Bagi Wanita

PART 1

1. Sholat di Rumah Lebih Utama

Ibn Umar r.a. meriwayatkan, bahwa baginda Rasul bersabda,

“ Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi shalat dirumah adalah lebih baik bagi mereka” [ HR. Ab Daud dari Abdullah bin ‘Umar, no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih laghairihi ]

2. Wanita Boleh Keluar Rumah dengan Izin

Rasululloh SAW bersabda :

“ Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘Alahi)

Namun juga ingat petuah Rasulullah SAW,\ yang lainnya : “ wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaitan menyambutnya.” (HR. AT Tirmidzi, shahih lihat Al-Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah SWT dan Rosul-Nya yaitu :

  1. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al-Ahzab : 59
  2. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah.
  3. Tidak boleh melenggak lenggok ketika jalan.
  4. Hindari memakai wewangian. (Al-Jami’ush Shahih: 4/311)
  5. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no 1341 )
  6. Tidak boleh menghentakan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya.(An-Nuur: 31)
  7. Tidak boleh ikhtilath(campur baur) dengan lawan jenis.(Lihat Shahih Al-Bukhari no. 870)
  8. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan muhram).(Lihat Shahih Muslim 2/978)

3. Allah Lebih Dekat dengan Wanita yang Berdiam di Rumah

Dari Abdullah, dari Nabi beliau bersabda, “ Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka syaitan akan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allahadalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” ( HR.Ibnu Khuzaimah no. 1685, sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani).

4. Tidak Boleh Melarang Wanita Shalat ke Masjid

Shalat seorang wanita di rumahnya secara umum lebih baik dibandingkan shalatnya yang dilakukan di masjid. Namun bila ada wanita yang meminta ijin untuk shalat di masjid ( utamanyauntuk berjamaah ), kita tidak boleh melarangnya, berdasarkan riwayat :

“ Salah seorang istri ‘Umar bin Al-Khaththab r.a. biasa menghadiri shalat ‘Isya’mdan Shubuh berjamaah di masjid. Ada yang berkata kepadanya, ‘Mengapa Anda keluar, bukankah Anda tahu bahwa ‘Umar tidak menyukai hal ini dan pecemburu?’ Ia menjawab, ‘Apa yang menghalanginya untuk melarangku adalah sabda Nabi SAW ‘Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid.” ( HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar, no. 858 dan Muslim no. 442. Lafazh ini milik Al-Bukhari)

5. Hukum Mengenakan Wewangian Saat Keluar Rumah

Hindari memakai wangi-wangian karena Rasulullah SAW bersabda :

“ Setiap mata itu berzina. Bila seorang wanita memakai wewangian kemudian ia melewati majelis laki-laki (yang bukan mahramnya) maka wanita itu begini dan begitu.” ( HR. At-Tirmidzi, no. 2237). Dalam Riwayat Ahmad (4/414)

“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian ia melewati satu kaum agar mereka mencium wanginya, maka wanita itu pezina.” ( Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’us Shahih 4/311)

Mengapa si wanita disebut demikian? Karena ia mengobarkan syahwat lelaki dengan aroma yang berasal dari wewangian yang dipakainya. Sehingga mereka terpancing untuk memandangnya. Bila demikian, si lelaki menjadi berzina dengan kedua matanya dan si wanitalah penyebabnya, maka ia berdosa. Demikian kata Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (8/58).

Karena itu Nabi SAW melarang wanita yang ingin ikut shalat berjamaah di masjid untuk memakai minyak wangi sebagaimana sabdanya :

“Apabila salah seorang dari kalian (para wanita) ingin ikut shalat ‘Isya berjamaah (di masjid), maka janganlah ia memakai minyak wangi pada malam itu.” (shahih, HR. Muslim no. 443 )

Namun apabila dirumah, atau tampil bersama mahram (suami) mengenakan wewangian sangat dianjurkan. Sebab wangi yang semerbak member nuansa tersendiri, melapangkan dada, dan menyenangkan hati. Sehinnga wajar bika setiap insane menyukai, termasuk Rasul kita yang mulia SAW. Anas bin Malik r.a. berkata. “ Rosulullah SAW pernah bersabda:”

“Wanita dan minyak wangi dijadikan sebagai kecintaanku dari dunia ini dan shalat dijadikan sebagai penyejuk mataku,” (HR. Ahmad, 3/128 Mimma Laisa fish Shahihain, 1/82)

(Yeni)

KERUDUNG DUSTA

Manusia, selain berkomunikasi secara tulisan dan lisan, juga menggunakan lambang dan simbol untuk melakukan komunikasi. Rambu-rambu lalu lintas contohnya. Kita bisa tahu maksudnya huruf P yang disilang, yakni kendaraan tidak boleh parkir di tempat yang dipasangi rambu tersebut. Maka jika kita markirin kendaraan di situ, udah pasti melanggar aturan. Tapi jangan juga ngeles kayak anekdot yang pernah saya baca. Tukang becak yang ngeyel dengan tetap ngetem di tempat yang sudah dipasangi rambu lalu lintas bergambar becak yang disilang, yang artinya becak nggak boleh ada di tempat itu. Tetapi ada tukang becak yang ngeles dengan mengatakan bahwa yang nggak boleh di situ kan gambar becak bukan becaknya. Hehehe… ini sih ngakalin memang. Maka, dalam lanjutan anekdot itu dikisahkan polisi yang negor tukang becak tersebut marah dengan mengatakan: “apakah kamu nggak sekolah, masa’ lambang gini nggak ngerti?” Eh, tukang becaknya nggak kalah berargumen: “Wah Pak, kalo saya sekolah dan pinter, mungkin sudah seperti Bapak!” Gubrak!

Nah, ngomong-ngomong soal kerudung (termasuk jilbab), ternyata busana juga bisa mengirimkan pesan lho. Sebab, busana, menurut Kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, atau golongan lain. Dalam hal ini, kamu suka nemuin kan ada orang yang suka tampil beda dengan busana atau aksesoris lainnya. Sekelompok remaja puteri ada yang berani untuk mengenakan busana yang tak menutupi auratnya kalo keluar rumah. Sebagian yang lain merasa besar kepala bila keluar rumah pamer rambut indahnya, berhias berlebihan dan nyemprotin parfum ampe super wangi.

Perbedaan yang hendak dikomunikasikan melalui busana ini, tentunya agar orang tahu siapa dirinya. Agar semua orang bisa menilai dirinya tanpa perlu kita bicara secara lisan atau menyampaikan melalui tulisan. Busana, adalah bagian dari komunikasi melalui simbol.

Terus, busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Kalo ada pak polisi mengenakan seragam polisi, maka biasanya beliau-beliau jaim alias jaga imej deh. Begitupun dengan remaja puteri, saat kamu memakai kerudung, maka perilaku kamu nggak bakalan “se-okem” ketika kamu berjins-ria. Ini fakta umum. Apalagi bagi yang udah sempurna berjilbab, nggak bakalan berani berperilaku yang norak, okem, senewen, atau malah urakan dan maksiat. Kecuali emang belum ngerti atau memang sengaja untuk kamuflase di tahap awal agar orang memandang dia baik perilakunya.

Hehehe.. ini juga fakta lho. Beberapa facebooker, menurut seorang kawan, ternyata PP alias foto profilnya mengenakan kerudung tetapi pada foto di ‘dalemannya’ malah ada penampilannya yang sedang membuka aurat. Nah, cerita teman saya itu, dia heran karena itu adalah temannya di jaman SMA, maka doi surprise dan menganggap sang teman sudah berubah. Eh, ternyata eh ternyata itu cuma di tampilan foto profilnya. Selebihnya, sang teman masih menampilkan fotonya dalam keadaan tak berkerudung. Waduh! Apakah ini bisa disebut kerudung dusta? Mungkin juga.

Bro en Sis, busana juga ternyata bisa berfungsi mengkomunikasikan emosi. Coba aja deh, kalo kamu nonton bola dengan bersegaram klub kebanggaan kamu, “nilai” teriak bin sorakknya lebih berharga (ciee.. emang gitu ya?). Kamu bisa lihat di televisi, bagaimana para penonton merasa terlibat secara emosi bila mengenakan kaos klub favoritnya.

So, buat para cewek wa akhwatuha, jadikan citra jilbab dalam perspesi sosial umum sebagai kebaikan; sopan, ramah, kalem, tahu agama, alim dan sebagainya. Jadi, seperti kata Kefgen dan Touchie-Specht, bahwa busana adalah “menyampaikan pesan”. Kamu menerima pesan di balik busana orang, kemudian merespon sesuai persepsi sosial kamu. Jadi, mungkin akan wajar kalo teman kamu akan bilang kerudung palsu atau kerudung dusta karena perilaku kamu bertentangan dengan busanamu. Intinya, busanamu mencerminkan perilakumu. Sebab, cara pandang seseorang akan mempengaruhi perilakunya.

Busana muslimah itu indah

Islam, sebagai agama yang sempurna memperhatikan pula tentang urusan pakaian. Yang indah itu yang bagaimana, yang sesuai syariat itu yang bagaimana. Semua dijelaskan oleh Islam. Bicara soal pakaian, Allah Swt, telah mengatur dalam firmanNya (yang artinya): “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS al-A’râf [7]: 26)

Nah, ngomong-ngomong syariat, busana muslimah tuh udah ada aturannya. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59)

Saya coba ngasih penjelasan sedikit. Moga-moga aja kamu pada paham ya? Jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinya­takan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Nah, kalo kamu pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung). Begitu sobat. Moga aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan kerudung.

Jadi pakaian muslimah itu? Nah, yang dimaksud pakaian muslimah, dan itu sesuai syariat Islam, adalah jilbab plus kerudungnya. Dan itu wajib dikenakan ketika keluar rumah atau di dalam rumah ketika ada orang asing (baca: bukan mahram) yang kebetulan sedang bertamu ke rumah kita or keluarga kita.

Sobat muda muslim, saya ‘cerewet’ begini bukan ngiri or nggak suka sama kamu. Tapi justru sebagai bentuk kepedulian. Tentu karena sayang sama kamu. Supaya ketika kamu berbuat patokannya adalah syariat Islam, bukan mode atawa selera kamu semata. Ok?

Semoga melalui tulisan ini, istilah kerudung palsu or kerudung dusta nggak melekat sama kamu. Sebab rugi banget deh, kamu pake kerudung tapi kamu masih dijuluki gajah alias gadis jahiliyah. Artinya, kerudung cuma nyangkut di kepala nutupin rambut dioang, tetapi pikiran kamu masih belum dihiasi dengan indahnya aturan Islam. Jika itu yang terjadi, pantas deh disebut kerudung dusta.

Yuk, benahi cara pandang kita tentang busana. Bahwa mengenakan busana muslimah itu kewajiban, bukan pilihan, apalagi atas dasar tren. Selain itu, poles pemikiran dan perasaan kamu dengan cara pandang ajaran Islam. Maka, nggak sekadar pake kerudung dan jilbab, tapi keilmuan kamu juga oke. Hebat kan? So, selamat tinggal kerudung dusta. Bye-bye kerudung palsu. So, jadilah muslimah betulan! Pasti bisa deh! Sip!

Sumber: Gaul Islam