0

Lomba Cerpen Nasional

SUKA NULIS CERPEN?
MAU PUNYA BUKU SENDIRI?
INGIN DAPAT HADIAH?

Ikutilah lomba cerita inspiratif, “Aku, Hewan dan Islam”
yang bertema tentang cerita ibroh dari mulianya makhluq Allah dan berkorelasi dengan peningkatan derajat kehidupan manusia. kelanjtan lihat poster.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang penyayang itu disayangi oleh Allah yang Maha Penyayang. Maka sayangilah yang di bumi, niscaya yang berada di langit menyayangi kalian”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 216, no. 1989]

“jalin kasih sayang sesama makhluq Allah dan raih hikmahnya”

RAIH KESEMPATAN UNTUK DITERBITKAN
dan uang total 1juta rupiah bagi cerita terfavorit.Gambar

0

Janur UNAIR di bulan April

Reminder Agenda Janur UNAIR hari ini :), untuk UMUM! Putra dan Putri.

DIORAMA
Bersama penulis best seller Bu Sinta Yudisia, kita kupas #Siapa sosok kartini abad 21?
19 april jam 16.00-17.30 di masjid Nuza. Cukup HTM 5.000, dapat sertifikat, snack, blocknote lhoo 🙂

Kajian Wilayah

Transgender , Legalkah ?
30 april jam 15.30 di masjid FKH ,Ust Redza K.
Free

Buruan daftar!! ketik Nama_NIM_Fakultas kirim ke 085733159214 yaa 🙂48067_4373807755032_1561014129_n

0

Pelatihan Jurnalistik & Multimedia JMV ,BEM

564438_3993527096451_884437548_n
Tertarik dengan dunia Jurnalistik?
Pengen bisa jadi Jurnalis handal??
Pengen Bisa mengabadikan momen indah lewat foto dan video??
Pengen bisa mengoperasikan software video editing seperti U-Lead??
Ayo ikutt Pelatihan Jurnalistik dan multimedia..
Bagi yang kemarin KETRIMA OR REDAKSI MAJALAH FKH UA, WAJIB ikut ya.. ini adalah bekal buat teman2 yang nantinya akan memperjuangkan KIPRAH PERS di FKH tercinta kita.. DAN DIBUKA JUGA UNTUK UMUM
Lets Join us!!

0

KEISTIQOMAHAN dalam DAKWAH

“MENGHIDUPKAN MEMORI DAKWAH”
Kekuatan sebuah memori tidak terletak pada visualisasi tentangnya, kapan peristiwanya, sedetail apa kejadiannya, siapa pelakunya, dimana lokasinya, dan sebagainya. Namun lebih kepada gelora hati saat mengenang memori tersebut.

Apabila memori itu baik, atau mengandung perbuatan kebaikan, maka dari gelora itu timbul kerinduan, kemudian mengejawantahkan dalam bentuk dorongan internal untuk melakukan suatu kebaikan serupa sebagaimana tergambar di pikiran.

Diantara semua memori yang pernah kita kenang, yang terbaik adalah manakala DAKWAH menjadi pelaku utamanya. Disana melebur jiwa muda dengan pikirannya yang segar, atau fisik yang prima dengan waktu luang yang melimpah, atau cita-cita meninggi dengan kebersamaan mencinta.

Hanya saja setiap kita perlu membuat semacam ‘alarm’ jiwa, ketika menempatkan DAKWAH dalam lintasan memori kita. Jangan-jangan ia justru HANYA berada di MASA LALU, di benak kita.

Padahal salah seorang Syaikh dakwah pernah mengatakan, “Dakwah adalah VISI, dakwah adalah MISI, dan dakwah adalah OBSESI”. Otomatis ia merupakan tujuan hidup, pekerjaan hidup, sekaligus penyemangat hidup.

DAKWAH bisa berada di MASA LALU sebagai SUMBER KEKUATAN dari memori. DAKWAH bisa berada di MASA KINI sebagai PROFESI hidup yang mulia. Dan, DAKWAH bisa berada di MASA DEPAN sebagai TUJUAN akhir yang mengabadi di sisi-Nya. SUdahkah kita meletakkan DAKWAH pada posisinya yang TEPAT?

Alangkah manisnya saat-saat Hudzaifah r.a menerima taujihat Rasulullah Saw tentang keistiqomahan, “Sesaat untuk urusan ini, dan sesaat untuk urusan itu.” Adanya prinsip TAWAZUN (keseimbangan) untuk menjaga agar ruh DAKWAH senantiasa berkobar dalam hati kita,. supaya ia tidak padam begitu saja.

KEISTIQOMAHAN dalam DAKWAH berkaitan erat dengan KESEIMBANGAN kita dalam mengelola segala bentuk KETERBATASAN.

Ingatkah kita, pada mereka yang memutuskan untuk berhenti lebih cepat dari DAKWAH ini, dikarenakan kesibukan-kesibukan mereka yang -katanya- tidak berujung? Lari dari satu pekerjaan menuju pekerjaan lain. Dari ruang kelas kuliah ke ruang kelas kuliah berikutnya. Dan dari tuntutan satu beralih ke tuntutan berikutnya. Mereka mengatakan, “Kami terlalu sibuk untuk mengurus dakwah ini, bukankah dakwah ini sudah diwariskan kepada generasi penerus kami?”

Kemanakah diri mereka saat ini, kawan? Mereka tidak menjadi SIAPA-SIAPA, tidak berada DIMANA-MANA, dan tidak mendapat APA-APA. Benarlah firman Allah, mereka menjadi generasi yang TERGANTIKAN.

Masih ada waktu dan kesempatan, agar kita tidak menjadi seperti mereka yang BERGUGURAN. Allah Swt tahu kita sibuk, dan kesibukan itu ujian dari-Nya agar kita terlatih mengelola waktu yang tersedia, agar KETERBATASAn itu bernilai BERKAH di jalan-Nya.

Mari belajar menaklukkan ujian TERSULIT dalam semua fase DAKWAH dan TARBIYAH kita : Kehilangan ruang untuk beramal.

0

Kajian Veteriner Perdana : Inikah Rasanya Cinta

jmv-20121Kave perdana di tahun 2013 yang cukup luar biasa. Subhanallah banyak peserta yang antusias mengikuti kajian mingguan FKH tersebut. Kegiatan yang diadakan oleh bidang Pelayanan Umat (PU) ini mengundang Ustad Reza. Tema yang diusung pun tidak tanggung-tanggung, yakni ‘Inikah Rasanya Cinta’. Membaca temanya sudah membuat kita penasaran dan bertanya-tanya, ‘seperti apa sih?’.

Cinta bukan kata yang asing lagi di telinga kita maupun dari pandangan kita. Rata-rata pasti sudah tahu dan sering merasakan hal seperti itu. So, itu wajar. Namun bagaimana wujud cinta dalam pandangan islam?. Cinta dalam islam yang paling tinggi, paling pertama yaitu cinta pada Allah dan Rasulullah. Wujud cinta kita adalah dengan selalu beriman dan bertakwa. Setiap tindakan kita landasi dengan mengharap keridhoan Allah. Selalu meneledani sifat-sifat Rasulullah. Berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Lalu bagaimana dengan cinta terhadap duniawi? Banyak sekali wujud kecintaan dunia, cinta pada harta, perhiasan, jabatan, dan manusia. Paling banyak adalah cinta pada manusia. Secara fitrah cinta pada manusia terutama pada lawan jenis itu adalah hal yang wajar. Tapi kita umat muslim yang tahu agama harusnya tahu aturan dan batasannya. Memandang lawan jenis yang bukan mahrom itu dilarang, apalagi sampai berpegangan tangan atau hal-hal yang menjurus kemaksiatan lainnya.

Islam nggak mengenal kamus pacaran. Banyak yang beralasan bahwa pacaran itu adalah solusi paling tepat mengenal pasangan kita. ‘Kalo nggak pacaran dulu, mana mungkin kita bisa kenal dan tahu karakter mereka?’ ‘Masak ada sih nikah dulu baru cinta? Kan adanya cinta dulu baru nikah. Cinta nggak bisa dipaksain.’ Alasan itu kalo dilogika memang ada benarnya, namun juga banyak yang tidak menjamin, karena pastinya akan ada kemungkinan : jika tidak ada kecocokkan atau sudah tidak cinta lagi, maka putus. Apakah cinta hanya dimaknai sedangkal itu dengan diawali dengan kata ‘PACARAN’ lalu berakhir dengan kata ‘PUTUS’??

Buat apa sih pacaran kalo akhirnya putus? Buat apa sih nikah lewat pacaran dulu kalo akhirnya cerai atau rumah tangganya nanti nggak harmonis? Ibarat sup yang didapat dengan cara haram, maka ujung-ujungnya saat kenikmatan isi dari sup itu sudah habis, maka yang ada hanya rasa kuah yang hambar. Seperti juga pacaran yang lama-lama akan bosan dan akhirnya pisah.

Sekali lagi pacaran dalam islam itu nggak ada, dan nggak boleh. Karena itu ada jalan yang paling mudah untuk membelokkan iman kita ke arah zina. Jika kita suka pada seseorang, maka buatlah komitmen yang kuat bahwa kita mencintainya, mencintai karena Allah bukan karena nafsu. Dan jalan yang benar dan halal adalah pernikahan.

Mengutip cerita dalam sebuah novel, ada seorang laki-laki yang terkenal dingin dan galak melamar seorang gadis yang sederhana dan agamanya kuat karena alasan dakwah. Seperti kisah Ali Bin Abi Thalib menikahi Fatimah Az-Zahra juga karena dakwah. Jadi, bagaimanapun kita mencintai seseorang, hakekatnya cinta itu ditujukan untuk Allah.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Ali Imran :31)

Jika kita merasakan cinta pada seseorang, maka sebisa mungkin kita bisa menjaga diri kita. Meski tidak mengungkapkan perasaan itu tapi kita juga harus bisa menjaga hati dari yang namanya zina hati. Banyak-banyak mengingat Allah, dan banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk menghilangkan perasaan itu. Niatkan semua langkah, ucapan, dan tindakan kita hanya untuk Allah.

Tugas kita kuliah untuk belajar, niatkan belajar untuk hal ibadah. Dan ukir prestasi untuk membuka jalan dakwah. Kita umat muslim masih banyak hal yang lebih bermanfaat dibanding berkutat pada masalah percintaan. Bukan berarti kita tidak boleh jatuh cinta, tapi jika karena cinta pada duniawi khususnya pada manusia hanya akan membuat kita lalai beribadah, malas berdakwah, dan jauh pada Sang Pencipta, buat apa coba??

Muda, Aqidah kuat, Berbakat, Prestasi hebat, dan Semangat terus meningkat. Sepakatt???

Salam dakwah untuk semua.. J

Redaksi~

0

KaMus (Kajian Muslimah) : Pentingnya Ilmu

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, maka dengan ilmu. Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat, maka dengan ilmu. Barangsiapa menghendaki kehidupan keduanya, maka dengan ilmu”

Masih ingat tentang hadits itu?? Tentunya bukan hadits yang asing kita dengar. Jum’at (8 Maret 2013) lalu seorang penulis dan ibu yang luar biasa datang mengisi Grand Opening kajian kemuslimahan di FKH Unair. Beliau adalah Sinta Yudisia. Penulis yang lebih senang dipanggil bunda daripada ustadzah itu memberikan kajian yang luarbiasa menarik. Peserta dari kalangan dosen, karyawan, dan mahasiswi sangat antusias mengikuti dan menyimak penyampaian dari beliau.

Hadits di atas juga termasuk salah satu yang beliau sampaikan. Ilmu adalah sumber segala macam pencapaian hidup. Kita hidup di dunia ini perlu adanya pengetahuan, kita mencari bekal di akhiratpun juga perlu didasari ilmu. Jika kita ingin mencapai kehidupan keduanya maka juga dengan ilmu. Contohnya adalah jika kita ingin menjadi dokter hewan yang profesional, bisa menyembuhkan hewan yang sakit, maka tidak semata-mata kita mengira-ngira obat apa yang tepat untuk menyembuhkan hewan tersebut. Semua itu perlu proses dengan didasari ilmu. Kita harus tahu gejala klinisnya, diagnosanya, sampai pada tahap cara penyembuhannya. Begitu juga tentang shalat, tidak semata-mata kita melakukan gerakan-gerakan yang ada dishalat itu kemudian langsung selesai. Namun kita harus bisa mencari maksud dari gerakan sholat itu, juga tahu arti dari bacaan sholat yang sering kita ucapkan. Dalam ayat Al-Qur’an dan Hadits perintah sholat selalu ‘dirikanlah sholat’ bukan ‘tunaikanlah sholat’. Mungkin kita masih belum bisa memahami makna kata itu, namun Allah sudah menjelaskan bahwa Sholat itu adalah tiangnya agama, maka jika sholat kita buruk, buruklah seluruh amalan kita. Begitu juga sebaliknya.

Bunda Sinta tidak hanya menjelaskan sampai disitu saja, beliau juga menyampaikan perilah dasar-dasar ilmu yang perlu kita tahu, tanamkan dalam hati, dan diamalkan. Dasar Ilmu itu adalah Aqidah/ tauhid, Qur’an dan Hadits, Akhlaq, Fiqih, dan ilmu-ilmu yang ada di dunia ini (Medis, seni, sastra, dll). Aqidah diletakkan di awal karena aqidah itu berasal dari keyakinan diri masing-masing. Orang yang aqidahnya kuat, maka ia kuat imannya, tidak mudah terpengaruh oleh ilmu-ilmu yang tidak jelas sumbernya. Al-Qur’an dan Hadits adalah sumber dari segala ilmu di dunia maupun di akhirat, jadi kita umat muslim harus memahami seluruh isi dari ayat-ayat Al-Qur’an bahkan hafal surat-suratnya.

Kajian yang berlangsung selama 1 jam ini berjalan begitu cepat dan peserta yang hadir antusias bertanya pada sesi tanya jawab. Salah satu dosen FKH, yakni Ibu Sri Hidanah pun juga menanyakan bagaimana seorang bunda Sinta bisa mengatur waktu dalam menulis, mengajar, dan mengurus rumah tangganya. Bunda Sinta tersenyum sambil menjawab pertanyaan dari beliau, bahwa ia gunakan waktu menulis di saat malam hari kemudian ia lanjutkan sholat malam. Dalam mendidik anak ia juga selalu mendampingi mereka pada saat menonton TV, sambil sesekali menasehati untuk tidak meniru adegan di salah satu sinetron yang ditonton. Beliau juga seorang istri solihah yang taat pada suami, beliau selalu meminta izin kepada suami, seperti halnya mengisi kajian di FKH.

Kajian Kemuslimahan ini tidak hanya berakhir jum’at kemarin, namun masih ada kajian-kajian lain yang setiap jum’atnya diadakan oleh bidang kemuslimahan JMV. Jadi kita tunggu saja KaMUs berikutnya. Don’t Miss it!! Be A True Muslimah J

Redaksi~

0

Tiga Prinsip Penting

Pertama; mulailah dari diri sendiri. Kita harus berusaha memperbaiki diri kita sendiri sebelum mengajak orang lain untuk menjadi baik. Kisah tentang Imam Hasan Al-Basri dengan utusan para budak sangat layak untuk kita jadikan contoh.

          Suatu ketika Imam Hasan Al-Basri didatangi oleh delegasi utusan para Budak. Delegasi budak mengeluhkan tentang perlakuan para majikan yang semena-mena dan kejam terhadap mereka. Delegasi itu juga berharap agar para majikan mau memerdekakan mereka. Mereka meminta kepada Imam Hasan Al-Basri agar berkenan menyampaikan dalam khutbah Jum’at tentang besarnya pahala dari Allah jika para majikan mau memerdekakan budaknya. Imam Hasan hanya terdiam mencermati permintaan para budak tersebut.

          Hari Jum’at adalah saat yang sangat ditunggu oleh para budak. Mereka ingin mendengarkan khutbah Jum’at sang Imam. Namun, mereka  kecewa karena sang Imam tidak ada membahas tentang budak dalam khutbahnya. Demikian berlalu sampai beberapa Jum’at, sampai suatu ketika Imam Hasan Al-Basri baru menyampaikan khutbah tentang perlunya bersikap kasih sayang terhadap budak serta besarnya pahala yang akan diterima dari Allah jika para majikan bersedia memerdekakan para budaknya. Berkat khutbah tersebut, maka banyaklah para majikan yang memerdekakan budaknya.

          Para budak banyak yang datang kepada sang Imam berselang beberapa saat setelah khutbah disampaikan, tapi bukan untuk menyampaikan terima kasih melainkan untuk mengajukan protes kenapa khutbah tentang budak baru sekarang disampaikan. Mendengarkan protes itu, maka Imam Hasan mengemukakan alasannya, “Aku menunda bicaraku tentang memerdekakan budak karena aku belum  mempunyai uang untuk membeli budak. Setelah Allah Ta’ala mengarunia aku uang untuk membeli budak, kemudian budak itu aku merdekakan sesuai dengan tema khutbah yang akan aku sampaikan dalam khutbah. Setelah aku melaksanakannya, barulah aku mengajak orang lain untuk melakukannya. Kaum Muslimin akan menyambut seruan Rabbul’alamin, jika mereka melihat ucapan dan perbuatanku sejalan.” Demikianlah Imam Hasan Al-Basri yang merupakan seorang ulama yang istiqomah dan memegang teguh ajaran Allah SWT.

          Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan sementara mereka tidak mengamalkannya sebagaimana firman-Nya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash – Shaff:3)

        Kedua; mulailah dari hal-hal yang kecil. Sangat sulit bagi seseorang untuk dapat menyelesaikan urusan yang besar secara baik apabila tidak  terlatih secara bertahap dengan mengerjakan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Akan sangat beresiko menyerahkan pekerjaan besar kepada pihak yang belum pernah menyelesaikan pekerjaan yang kecil secara baik. Sekecil apa pun pekerjaan baik yang kita lakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, insya Allah akan memberikan kontribusi yang berarti bagi kepentingan umat. Sekalipun manusia mungkin kurang menghargai usaha yang kita lakukan, yakinlah pasti Allah akan sangat menghargainya.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.” (Al-Zalzalah:7)

          Kita tidak harus menjadi pejabat baru bisa berbuat, tidak harus menjadi Pegawai Negeri baru bisa mengabdi, tidak harus menjadi anggota dewan baru bisa membantu perjuangan. Kita semua bisa memberikan sumbangsih dalam membangun umat dengan apa pun yang bisa kita lakukan. Jika tidak mampu membantu dengan harta, maka bisa dengan tenaga, pikiran, ucapan, atau sekurang-kurangnya tidak mengganggu orang lain yang sedang bekerja.

Berkaitan dengan ibadah ritual, misalnya tentang kesempurnaan ibadah sholat, maka kita tidak boleh mengabaikan  urusan di kamar kecil (WC). Urusan istinja’(bersuci setelah buang air) banyak dianggap sebagai urusan sepele. Tahukah anda, jika Nabi pernah menginformasikan bahwa siksa kubur banyak bersumber dari istinja’ yang tidak benar. Hal ini dapat dimaklumi dengan mengkaitkannya dengan aturan wudhu’. Wudhu’ seseorang tidak akan sempurna jika istinja’  tidak dilakukan sesuai aturan. Sedangkan sholat yang merupakan tiang agama menjadi tidak sempurna jika diawali dengan wudhu’-nya tidak sempurna.

      Ketiga; mulailah dari sekarang. Jangan menunda-nunda waktu dalam berbuat kebaikan. Apa yang bisa dikerjakan hari ini, maka jangan menundanya sampai hari esok karena tidak ada jaminan bahwa anda masih dapat mengerjakannya esok hari. Pemahaman seperti ini sangat penting terutama untuk kepentingan ibadah kita. Datangnya malaikat penjemput ruh tiada terduga. Selagi masih ada jatah hidup diberikan Allah, mari kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan masa depan yang cerah baik di dunia maupun di akhirat.

Tiga prinsip yang dikemukakan pada tulisan ini merupakan prinsip sederhana, akan tetapi untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata sangat diperlukan kesadaran dan semangat yang kuat. Prinsip-prinsip tersebut bukan saja untuk urusan akhirat, namun juga sangat penting diwujudkan dalam mencari kepentingan dunia. Allah SWT juga mengajarkan kepada kita:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash:77)